ANALISIS MANAJEMEN
SARANA DAN PRASARANA DAMPAKNYA TERHADAP HASIL BELAJAR
SISWA MELALUI KUALITAS PEMBELAJARAN DI KELOMPOK KERJA MADRASAH (KKM) MADRASAH
ALIYAH NEGERI 1 BULUKUMBA
Andi Muhammad Tasmira1,
Hasmin2, Mislia3
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Amkop Makassar
Abstrak
Research objectives
consist of general goals and specific objectives. The general objective is to
analyze the impact or cause of a phenomenon. Specific objectives, namely a) to
analyze the effect of management of facilities and infrastructure on the
quality of learning in KKM MAN 1 Bulukumba. b) to analyze the effect of
facility and infrastructure management on learning outcomes in KKM MAN 1
Bulukumba. c) to analyze the effect of the quality of learning on learning
outcomes in KKM MAN 1 Bulukumba. d) to analyze the effect of facility and
infrastructure management on learning outcomes through the quality of learning
in KKM MAN 1 Bulukumba.
The population in
this study amounted to 121 teachers. The minimum sample size is the same as a
population of 121 teachers. The sampling technique used was saturated sampling
(census). The Technique off collection data is questionnaire, observations,
interviews and documentation. The data analysis technique used validity and
reliability tests, descriptive analysis, and path analysis.
The results showed
that: (a) the management of facilities and infrastructure had a positive and
significant effect on the quality of learning. (b) management of facilities and
infrastructure has a positive and significant effect on learning outcomes. (c)
the quality of learning has a positive and significant effect on learning
outcomes. (d) management of facilities and infrastructure has a positive and
significant effect on learning outcomes through the quality of learning.
Key words: Management
of facilities and infrastructure, quality of learning, learning outcomes.
1. Latar Belakang
Esensi
pendidikan terkait dengan perkembangan potensi pelajar agar menjadi manusia
yang percaya dan takut kepada Allah SWT, berakhlak mulia, sehat, berpengetahuan,
berkebolehan, kreatif, berdikari, dan menjadi warga masyarakat yang demokratis
serta bertanggung jawab. Esensi pendidikan pada dasarnya bersumber pada norma agama, kebudayaan
nasional Indonesia dan senantiasa mengikuti perkembangan zaman. Pendidikan nasional di Indonesia masih
dihadapkan pada beberapa permasalahan yang menonjol, seperti kesempatan
memperoleh pendidikan masih rendah dan tidak merata, mutu dan relevansi
pendidikan masih rendah, dan lemahnya
manajemen pendidikan, di samping samping itu para akademisi belum menunjukkan
adanya sifat kemandirian dan keunggulan dalam bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi (Kusnandar, 2007:23).
----------------------------------------------
[1] Mahasiswa Magister Pendidikan PPs AMKOP Makassar
[1] Dosen PPS AMKOP Makassar (Pembimbing 1)
[1] Dosen PPS AMKOP Makassar (Pembimbing 2)
Hasil
belajar merupakan bagian dari esensi pendidikan yang terkait dengan evaluasi
terhadap potensi peserta didik. Hasil
belajar dianggap berhasil apabila memiliki daya serap tinggi sesuai tujuan
pembelajaran yang akan dicapai (Syaiful dan Arwan, 2002:120). Tujuan utama dari Hasil belajar adalah untuk
mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan yang dicapai oleh peserta didik
setelah diberikan tindakan pembelajaran (Dimyati dan Mudjiono. 2004.200).
Lembaga pendidikan Madrasah di Kabupaten
Bulukumba yang menjadi objek dalam penelitian ini. Madrasah sering pula disebut sebagai sekolah
plus karena memadukan antara pendidikan pesantren dengan sekolah umum. Karakteristik pesantren pada madrasah terlihat pada
pelajaran agama Islam yang lebih banyak serta kehidupan keberagamaan dikalangan
peserta didik, sedangkan karakteristik sekolah terlihat dari sistem kelas, semua
mata pelajaran umum diajarkan, dan pengelolaan pendidikannya. (Daulay,
2006:78). Nilai rata-rata ujian
nasional selama tahun pelajaran 2015/2016 sampai dengan 2018/20219 di Kelompok
Kerja Madrasah (KKM) MAN 1 Bulukumba.
Rata-Rata
Nilai Ujian Nasional
Tahun
2015- 2018
|
No |
Nama Madrasah |
Tahun Pendidikan |
|||
|
2015/2016 |
2016/2017 |
2017/2018 |
2018/2019 |
||
|
1 |
Madrasah
Aliyah Negeri 1 Bulukumba |
34,97 |
66,45 |
53,84 |
51,64 |
|
2 |
Madrasah
Aliyah Muhammadiyah Palampang |
33,67 |
51,85 |
38,89 |
40,26 |
|
3 |
Madrasah
Aliyah Sapobonto |
39,39 |
48,32 |
38,78 |
40,05 |
|
4 |
Madrasah
Aliyah Darul Qalam |
63,96 |
30,24 |
37,11 |
46,12 |
|
5 |
Madrasah
Aliyah Guppi Gunturu |
31,66 |
61,29 |
51,11 |
81,39 |
|
Standar ketuntasan Minimal |
85,00 |
85,00 |
85,00 |
85,00 |
|
Sumber: Kepala MAN 1 Bulukumba
Rata-rata nilai ujian nasional berdasarkan
tabel diatas masih belum mencapai
standar, yakni 85,00. Hal ini mengindikasikan masih rendahnya hasil belajar
yang dicapai dari lima (5) madrasah yang berada di Kabupaten Bulukumba.
Fenomena terkait dengan rendahnya hasil belajar dicapai, dapat dipengaruhi oleh
dua faktor, yakni manajemen sarana dan prasarana dan kualitas
pembelajaran. Faktor manajemen sarana
dan prasarana meliputi keterbatasan anggaran dalam pengadaan sarana dan
prasarana. Sedangkan dari aspek kualitas pembelajaran, seperti lingkungan fisik belum nyaman, suasana
pembelajaran belum kondusif, penyampaikan pelajaran tidak jelas dan sistematis,
menyajikan materi kurang bijaksana, semua unit kerja belum semuanya menggunakan teknologi pembelajaran.
Urgennya sarana dan prasarana dalam menunjang
proses pembelajaran, termaktib dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 20
tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional “Setiap satuan pendidikan formal dan non
formal menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi yang memenuhi keperluan
pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan
intelektual, sosial, emosional, dan kewajiban peserta didik”. Optimalisasi kaitannya dengan manajemen
sarana dan prasarana memiliki peranan
penting dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar (Martin dan Nurhattati, 2016:1). Manajemen sarana prasarana pembelajaran
bermaksud menata dan melindungi sarana prasarana pembelajaran supaya bisa memberikan
sumbangsih terhadap peningkatan kualitas pembelajaran dan hasil belajar secara optimal dan berarti (Mujamil,
2007:170-171).
Penelitian dari Engkoswara dan Aan Komariah (2015:308) yang
menunjukkan bahwa kepercayaan dari stakeholder merupakan salah satu indikator
dari sekolah yang memiliki kualitas pembelajaran dan pada akhirnya menghasilkan
perserta didik yang memiliki hasil belajar yang memuaskan. Penelitian dari
Nirmala, (2015) menemukan bahwa
manajemen sarana dan prasarana memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas pembelajaran. Hasil
penelitian ini mendukung temuan dari Rahmawati (2019) di Madrasah Aliyah Negeri
1 Mojokerto menunjukkan manajemen sarana dan prasarana berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kualitas pembelajaran di MAN 1 Mojokerto. Sedangkan, temuan dari Dayang Murniarti dkk. (2016) memperlihatkan bahwa manajemen sarana dan
prasarana yang bagus dapat meningkatkan hasil berlajar secara signifikan.
Temuan penelitian ini juga menjelaskan bahwa manajemen sarana dan
prasarana dapat memberikan kontribusi secara optimal terkait dengan proses pembelajaran dan
muaranya pada hasil belajar.
2. TINJAUAN PUSTAKA
A. Manajemen Sarana dan Prasarana
(1) Manajemen
sarana prasarana merupakan aktivitas menyusun dimulai dari pencatatan (analisis
kebutuhan), pengadaan barang, pembagian atau pendistribusian, pemanfaatan,
perawatan, pemusnahan serta bertanggung jawab kepada benda bergerak dan tidak bergerak,
perabotan sekolah, alat- alat pembelajaran, serta yang lainnya. (Mulyasa,
2004). Prinsip-prinsip manajemen sarana dan prasarana adalah sebagai berikut:
(1) prinsip pencapaian tujuan, (2) prinsip kedayagunaan, (3) prinsip
administratif, (4) prinsip kejelasan tanggung jawab, (5) prinsip kekohesifan.
(Indrawan, 2015: 17-18). Manajemen
sarana dan prasarana menurut Matin dan Nurhattati (2016:22-25) memiliki peranan
terkait dengan: (a) perencanaan sarana & prasarana merupakan proses planning
dari pengadaan sarana prasana baik melalui upaya pembelian, penyewaan,
peminjaman, penukaran, daur ulang rekondisi/ rehabilitasi, distribusi atau
pembuatan peralatan dan perlengkapan yang disesuaikan dengan kebutuhan sekolah.
(Barnawi dan M. Arifin, 2007:51). (b) pengadaan atau penyediaan sarana dan
prasarana merupakan segala kegiatan yang dilakukan dengan cara menyediakan semua
keperluan barang atau jasa dengan memperhatikan data terkait dengan perencanaan
yang dimaksudkan agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan
efisien sesuai dengan tujuan yang diinginkan. (c) pengaturan sarana dan
prasarana Aktivitas yang ada pada fase pengaturan, ialah: Pencatatan, Penyimpanan,
perawatan. (Barnawi dan M. Arifin, 2007:
51) (d) penggunaan sarana prasarana dibahasakan sebagai rutinitas pemanfaatan
sarana prasarana pembelajaran dalam mensupport proses belajar mengajar demi
mewujudkan tujuan dari pembelajaran. (Barnawi dan M. Arifin, 2007: 77). (e)
Pemeliharaan sarana prasarana merupakan usaha ataupun cara dalam menjaga
situasi teknis, daya guna serta hasil guna dari sarana prasarana yang
dimanfaatkan selama ini melalui upaya menjaga, merehabilitasi, serta
menyempurnakannya yang akhirnya membuat sarana prasarana terawat dan awet dalam
penggunaannya, (Matin serta Nurhattati Fuad, 2016: 89- 90). (f) pengawasan
sarana prasarana adalah serangkaian kegiatan kontroling dalam penggunaan sarana
prasarana untuk memastikan dan menjamin terjaga terpelihara, dan
termanfaatkannya sarana prasarana dalam lingkup sekolah untuk kesuksesan dari
pendidikan di sekolah tersebut, (g) penghapusan sarana prasarana ialah
aktivitas pembebasan sarana prasarana dari pertanggungjawaban yang legal dengan
alibi yang bisa dipertanggung- jawabkan.
B. Kualitas Pembelajaran
Kualitas pembelajaran juga dapat diartikan
sebagai hubungan antara perilaku pendidik, perilaku pelajar, iklim
pembelajaran, bahan ajar, media pembelajaran yang berkualitas, dan sistem
pembelajaran untuk mencapai tujuan dari pembelajaran. (Depdiknas, 2004, hal.
7). Faktor yang dapat mempengaruhi kualitas pembelajaran,
yaitu: (a) faktor guru. (b) aspek peserta didik. (c) faktor sarana dan
prasarana. (d) faktor metode pembelajaran. (e) faktor lingkungan (suasana
belajar). Sementara itu menurut Nasruddin (2010:206-210) faktor lainnya yang mempengaruhi kualitas belajar, yaitu: (a)
faktor internal, (seperti aspek fisiologis dan
aspek psikologis) dan (b) faktor eksternal, seperti faktor lingkungan
keluarga, sosial ekonomi keluarga dan pendidikan orang tua. (c) faktor
lingkungan tempat belajar, seperti sarana prasarana, silabus dan metode
mengajar. Komponen-komponen yang terkait dengan kualitas pembelajaran adalah:
(1) plajar dan tenaga pendidik. (2) kurikulum. (3) sarana dan prasarana
pendidikan. (4) manajemen sekolah, (5) pengelolaan proses pembelajaran, (6)
pengelolaan pembiayaan. (7) evaluasi. (8) kerjasama (Yamin dan Maisah, 2009;
164-166). Indikator
kualitas pembelajaran menurut Morrison, Mokashi & Cotter (2006:21), yaitu:
(1) Rich
and stimulating physical environment, (2)
Classroom climate condusive to learning, (3)
Clear and high expectation for all
students, (4) Coherent, focused
instruction, (5) Thoughtful discourse,
(6) Authentic learning, (7) Regular diagnostic assessment for learning, (8)
Reading and writing as
essential activities, (9) Mathematical
reasonin, (10) Effective use of technology.
C. Hasil Belajar
. Hasil belajar
adalah sebagai terjadinya
transformasi tingkah laku pada diri seseorang yang bisa diamati dan
diukur dalam bentuk pengetahuan, sikap dan keterampilan. Transformasi tersebut
dapat diartikan sebagai terwujudnya penambahan dan pengembangan yang lebih baik
dari sebelumnya dan yang tidak tahu menjadi tahu (Oemar, 2007:30). Suatu proses
belajar mengajar dianggap sukses bila energi serap besar bagus dengan cara
perorangan ataupun golongan serta sikap yang digariskan dalam tujuan pembelajaran
sudah dicapai. (Saiful dan Arfan, 2002:120). Hasil belajar menurut Dimyati dan Mudjiono (2004:201) difungsikan
dan ditunjukan untuk seleksi, sebagai dasar kenaikan kelas, untuk penempatan.
Hasil belajar mencakup tiga ranah menurut Mulyadi (2010:3) yaitu: (1) ranah
kognitif (ingatan, pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, menciptakan,
membangun, evaluasi), (2) ranah afektif (penerimaan, sambutan, sikap
menghargai, pendalaman, penghayatan), (3) ranah psikomotor (keterampilan
bergerak dan bertindak, kecakapan ekspresi verbal dan non-verbal).
D.
Pengukuran Variabel dan Kerangka Konseptual
Pengukuran variabel laten menggunakan indikator dan
pernyataan dari indikator dituangkan dalam bentuk kuesioner. Tingkat pengukuran
yang dipakai adalah ordinal, dimana
angka-angka yang digunakan mengandung pengertian tingkatan, sangat baik = 5, Baik = 4, netral = 3, tidak
baik = 2, sangat tidak baik = 1. Adapun definisi operasional variabel dan
indikator dari setiap variabel laten adalah sebagai berikut:
1.
Variabel
Independen: Manajemen Sarana dan Prasarana (X) adalah upaya dalam
rangka mengelola sarana dan prasarana secara efisien dan efektif untuk
menghasilkan proses belajar mengajar yang berKualitas. Indikator dari manajemen
sarana dan prasarana mengacu pada pendapat Niswanto dkk. (2016); Matin dan
Nurhattati (2016:22-25), yaitu: perencanaan (X1), pengadaan (X2), pengaturan
(X3), penggunaan (X4), pemeliharaan (X5), pengawasan (X6), dan penghapusan
(X7).
2.
Variabel
Intervening: Kualitas Pembelajaran (Y) adalah cerminan dari baik buruknya hasil yang digapai
oleh peserta didik dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan.
Indikator dari Kualitas pembelajaran mengacu pada pendapat Morrison, Mokashi & Cotter (2006:21),
yaitu: lingkungan fisik (Y1), suasana pembelajaran kondusif (Y2), menyampaikan
pelajaran dengan jelas (Y3), menyampaikan pelajaran secara runtut dan terpusat (Y4),
menyajikan materi dengan bijaksana (Y5), pembelajaran bersifat nyata (Y6),
penilaian diagnostik secara periodik (Y7), pertimbangan rasional (Y8),
menggunakan teknologi pembelajaran (Y9).
3. Variabel Dependen. Hasil
belajar (Z) adalah transformasi
tingkah laku pada diri seseorang siswa
yang dapat diamati dan diukur dalam
bentuk pengetahuan, sikap dan keterampilan. Transformasi tersebut
dapat diartikan sebagai terjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik
dari sebelumnya. Indikator mengacu pada pendapat Burhan (2008:42), yaitu: rana kognitif (Z1), rana afektif (Z2), rana
psikomotor (Z3).
E. Kerangka Konseptual
F. Gambar 2.1
G. Kerangka Konseptual
MUTU PEMBELAJARAN
(Y) : 1. Lingkungan fisik (Y1) 2.
Suasana
pembelajaran kondusif (Y2) 3.
Menyampaikan
pelajaran dengan jelas (Y3) 4.
Menyampaikan
pelajaran secara sistematis dan terfokus (Y4) 5.
Menyajikan
materi dengan bijaksana (Y5) 6.
Pembelajaran
bersifat riil 7.
Penilaian
diagnostik secara periodik 8.
Pertimbangan rasional 9.
Menggunakan teknologi pembelajaran Niswanto dkk. (2016); Matin dan
Nurhattati (2016:22-25) Manajemen Sarana Prasarana (X) 1.
Perencanaan 2.
Pengadaan
3.
Pengaturan
4.
Penggunaan
5.
Pemeliharaan
6.
Pengawasan 7.
Penghapusan
Morrison,
Mokashi & Cotter (2006) Hasil Belajar (Z) 1.
Ranah
Kognitif 2.
Ranah
Psikomotorik 3.
Ranah
Apektif Burhan.
(2008:42)
H.
I.
J.
K.
L.
M.
Keterangan:
3. METODE PENELITIAN
Tipe
desain penelitian yang digunakan adalah survey
research. Survei merupakan
proses pengukuran yang digunakan untuk mengumpulkan data dengan menggunakan
kuesioner. Jenis pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini
adalah kuantitatif. Karakteristik dari pendekatan penelitian kuantitatif,
terdiri atas: jenis data (fenomena digambarkan secara numerik), analisis
(statistik deskriptif dan inferensial), cakupan penelitian (hipotesis atau
pertanyaan yang spesifik). Lokasi
penelitian di Kelompok Kerja
Madrasah (KKM) MAN 1 Bulukumba. Tempat pengambilan data di Madrasah Aliyah
Negeri 1 Bulukumba, Madrasah Aliyah Muhammadiyah Palampang, Madrasah Aliyah
Sapobonto, Madrasah Aliyah Darul Qalam, dan Madrasah Aliyah Guppi Gunturu. Waktu penelitian yang dibutuhkan setelah proposal sampai
dengan penyelesaian tesis adalah Dua bulan (Januari – Februari 2021). Populasi dalam penelitian sebanyak 121
orang tenaga pengajar (MAN 1 Bulukumba: 50 orang; Madrasah Aliyah Muhammadiyah
Palampang: 21 orang; Madrasah Aliyah Sapobonto: 21 orang; Madrasah Aliyah Darul
Qualam: 13 orang; Madrasah Aliyah Guppi Gunturu: 16 orang). Teknik penggunaan sampel menggunakan sampel jenuh dimana
semua populasi dijadikan sebagai sampel. Tekhnik Pengumpulan data melalui
kuesioner kepada para responden, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sementara
teknik analisis data yang digunakan uji validitas dan reliabilitas
instrument, analisis statistik deskriptif, pengujian normalitas, uji Sobel, analisis jalur,
dan uji hipotesis t.
4. HASIL
PENELITIAN
1.
Indikator koefisien korelasi product moment > r –tabel (0,176)
atau Sig. (1-tailed) ≤ 0,05, sehingga dapat dinyatakan semua indikator dapat
mengukur masing-masing konstruk laten (Valid). ndikator dari masing masing
variabel manajemen sarana dan prasarana, mutu pembelajaran dan hasil belajar
menunjukkan nilai ≥ 0,6 maka instrumen
tersebut dinyatakan reliabel. Hasil pengujian normalitas menunjukkan nilai Kolmogorov Smirnov =
0,200 ≥ 0,05 dan ini berarti bahwa data
berdistribusi normal.
2.
Tabel koofisien model struktur pertama
Tabel
1 : Koofisien Model Struktur pertama
|
|
||||||
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
T |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
23,795 |
3,081 |
|
7,723 |
0,000 |
|
MANAJEMEN SARANA &
PRASARANA |
0,450 |
0,115 |
0,338 |
3,913 |
0,000 |
|
|
a. Dependent Variable:
KUALITAS PEMBELAJARAN |
||||||
Persamaan model struktur
pertama: Y = 0,338 X, di mana nilai
koefisien beta dari manajemen sarana dan prasarana (X) sebesar 0,338 dengan tingkat signifikansi
0,000 yang berarti signifikan (Sig ≤ 0,05). Besarnya pengaruh variabel
Manajemen Sarana Prasarana (X) terhadap Variabel Kualitas pembelajaran (Y)
dapat dilihat pada nilai standardized
coefficients beta sebesar 0,338 yang artinya bila manajemen sarana dan
prasarana meningkat sebesar 1 poin maka kualitas pembelajaran meningkat sebesar
0,338 poin. Hal ini berarti hipotesis 1
diterima dimana manajemen sarana
dan prasarana memiliki pengaruh yang bermakna terhadap kualitas pembelajaran. Selanjutnya
nilai korelasi (R) = 0,838, artinya manajemen sarana dan prasarana memiliki
hubungan yang kuat dan positif terhadap kualitas pembelajaran. Angka determinasi
R-Square (R2) menampakkan bilangan 0,702 atau 70,2 %. Ini menandakan kenaikan
dan penurunan mutu pembelajaran dipengaruhi dari manajemen sarana prasarana
sebesar 70.2 %, Sedangkan sisanya sebesar 29,8% dipengaruhi oleh faktor lainnya
yang tidak diamati dalam model
3.
Analisis
Jalur model struktur kedua
Tabel 2
Koefisien Model Struktur Kedua
|
|
||||||
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardized Coefficients |
t |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) |
18.775 |
4.675 |
|
4.016 |
.000 |
|
MANAJEMEN SARANA &
PRASARANA (X) |
.265 |
.151 |
.142 |
1.748 |
.001 |
|
|
KUALITAS PEMBELAJARAN
(Y) |
.686 |
.114 |
.492 |
6.047 |
.000 |
|
|
a. Dependent Variable:
HASIL BELAJAR (Z) |
||||||
Mengacu pada tabel 4.11 diatas maka persamaan
jalur model kedua adalah Z =
4.
Selanjutnya, nilai kooefisien jalur
5.
Hasil
uji sobel menunjukkan nilai signifikansi dari pengaruh tidak langsung dengan
kualitas pembelajaran sebagai mediasi sebesar 0,000 ≤ 0,05. Hal ini
berarti H4 diterima bahwa kualitas pembelajaran dapat mengintervensi pengaruh
antara manajemen sarana dan prasarana terhadap hasil belajar.
6.
Pengaruh
Langsung
1.
Pengaruh
langsung variabel manajemen sarana prasarana (variabel independent) terhadap
variable Kualitas pembelajaran (Variabel intervening) adalah = 0,338, artinya setiap terjadi
peningkatan variable manajemen sarana prasarasana sebesar 1 poin akan mampu
meningkatkan Kualitas pembelajaran sebesar 0.338. (Terbukti)
2.
Pengaruh
langsung variabel manajemen sarana prasarana (variable independent) terhadap
variabel hasil belajar (variabel dependent) adalah 0,142, artinya setiap
terjadi peningkatan variabel manajemen sarana prasarana sebesar 1 poin akan
mampu meningkatkan hasil belajar sebesar 0.142 poin. (Terbukti)
3.
Pengaruh
langsung variabel kualitas pembelajaran (variabel intervening) terhadap
variabel hasil belajar (variabel dependent) adalah 0,492, artinya setiap
terjadi peningkatan variabel kualitas pembelajaran sebesar 1 poin akan mampu
meningkatkan hasil belajar sebesar 0.492 poin (Terbukti).
7.
Pengaruh
tidak langsung
8.
Hasil
Uji Hipotesis
|
No |
Hipotesis |
Nilai |
Sig |
Kesimpulan |
|
1 |
Manajemen
Sarana Prasarana berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas
pembelajaran |
0,338 |
0,000 |
Diterima |
|
2 |
Manajemen
sarana Prasarana berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar |
0,142 |
0,001 |
Diterima |
|
3 |
Kualitas
Pembelajaran berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar |
0,492 |
0.000 |
Diterima |
|
4 |
Manajemen
Sarana Prasarana berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar
melalui kualitas pembelajaran |
0,166 |
0,000 |
Diterima |
5. Pembahasan
1.
Manajemen Sarana dan Prasarana Terhadap
Kualitas Pembelajaran
Pengaruh manajemen
sarana prasarana terhadap kualitas pembelajaran di KKM MAN 1 Bulukumba yang
terdiri dari 5 Madrasah Aliyah dilihat dari analisis jalur pengaruh langsung hasilnya
menampakkan kesan positif dan signifikan manajemen sarana prasarana pada kualitas
pembelajaran. Pengaruh positif dan signifikan manajemen sarana prasarana
terhadap kualitas pembelajaran mengindikasikan bahwa semakin baik manajemen
sarana prasarana di lingkungan madrasah pada KKM MAN 1 Bulukumba maka akan
semakin memperbaiki kualitas pembelajaran di madrasah naungan KKM MAN 1
Bulukumba.
2.
Manajemen
Sarana dan Prasarana Terhadap Hasil Belajar
Pengaruh manajemen
sarana dan prasarana terhadap hasil belajar siswa adalah positif dan
signifikan, artinya bahwa perbaikan manajemen sarana prasarana akan diikuti
oleh kenaikan hasil belajar peserta didik dengan menganggap faktor lain yang mempengaruhi
dianggap tetap. . Pengaruh positif dan signifikan manajemen sarana prasarana
terhadap hasil belajar siswa pada KKM MAN 1 Bulukumba dilihat dari hasil
analisis jalur pengaruh secara langsung yang menampakkan manajemen sarana
prasarana secara positif dan signifikan terhadap hasil belajar peserta didik.
3.
Kualitas Pembelajaran Terhadap Hasil Belajar
Kualitas Pembelajaran menunjukkan pengaruhnya
secara positif serta signifikan kepada hasil belajarnya, artinya perbaikan kulaitas
pembelajaran akan disertai dengan peningkatan hasil belajar siswa dengan anggapan
bahwa factor lain dianggap tetap. Pengaruh yang positif serta signifikan dari mutu
pembelajaran pada hasil belajar peserta didik KKM MAN 1 Bulukumba nampak dari
hasil analisis jalur pengaruh langsung yang menampakkan pengaruh positif dan
signifikan variabel mutu pembelajaran pada hasil belajar. Pengaruh positif dan
signifikan kualitas pembelajaran terhadap hasil belajar siswa mengindikasikan
bahwa semakin baik kualitas pembelajaran maka akan semakin meningkatkan hasil
belajar siswa pada KKM MAN 1 Bulukumba. Sebaliknya jika kualitas pembelajaran
tidak baik maka hasil belajar siswa akan menurun.
4.
Manajemen Sarana dan Prasarana Terhadap Hasil
Belajar Melalui kualitas Pembelajaran
Pengaruh manajemen
sarana prasarana terhadap hasil belahar melalui kualitas pembelajaran adalah
positif dan signifikan, artinya bahwa peningkatan manajemen sarana prasarana di
madrasah akan diikuti ole peningkatan hasil belajar siswa melalui kualitas
pembelajaran dengan asumsi bahwa factor-faktor lai yang mempengaruhi dianggap
konstan. Manajemen sarana dan prasarana dapat
mendukung secara langsung dan tidak langsung terhadap kelancaran proses
pembelajaran. Proses pembelajaran yang baik dapat meningkatkan kualitas
pembelajaran dan hasil belajar siswa. Siswa yang memiliki hasil belajar yang
bagus memiliki ranah kognitif (pengetahuan, pemahaman, penerapan,
analisis, sintetis, penilaian), ranah apektif (perhatiannya terhadap
pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas,
kebiasan belajar dan hubungan sosial.) dan ranah psikomotorik (keterampilan
pada gerakan yang tidak sadar, keterampilan pada gerak-gerak sadar, kemampuan
perseptual, dan kemampuan yang berkenaan dengan komunikasi).
6. PENUTUP
1.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan sebagai
berikut:
a.
Manajemen sarana dan prasarana
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas pembelajaran.
b.
Manajemen sarana dan prasarana
berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar.
c.
Kualitas pembelajaran berpengaruh
positif dan signifikan terhadap hasil belajar.
d.
Manajemen sarana dan prasarana berpengaruh positif dan signifikan terhadap
hasil belajar melalui kualitas
pembelajaran.
2.
Saran-Saran
Saran-saran yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut:
Saran Praktis :
a.
Sekolah perlu mengelola sarana dan
prasarana dengan baik dikarenakan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan
hasil belajar.
b.
Sekolah perlu meningkatkan kualitas
pembelajaran dikarenakan dapat meningkatkan hasil belajar.
c.
Pihak kementerian Agama Kabupaten
Bulukumba agar lebih memberikan perhatian kepada madrasah khususnya madrasah
swasta
Saran Teoritis
Bagi
peneliti akan datang maka perlu menambahkan variabel bebas yang dapat mempengaruhi kualitas pembelajaran
dan hasil belajar, seperti kompetensi guru dan lingkungan sekolah.
Referensi
Barnawi
dan M Arifin. (2017). Sistem Penjaminan Kualitas Pendidikan, Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media.
Daulay, Putra, Haidar. (2006). Pendidikan
Islam: Dalam Sistem Pendidikan Nasional Di Indonesia. Jakarta: Kencana.
Dayang Murniarti, Endang Purwaningsih, Sri
Buwono. 2016. Pengaruh Sarana dan Prasarana Terhadap Hasil Belajar Siswa
Pelajaran Ekonomi SMA Negeri 1 Sungai Ambawang. Jurnal Pendidikan dan
Teknologi. Vol.4, No.1.
Depdiknas.
(2004). Peningkatan Kualitas Pembelajaran. Jakarta: Depdiknas.
Devi, Reynita, Chintia. (2018).
Manajemen Sarana dan Prasarana dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran di SMP
Negeri 23 Medan. Skripsi. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.
Dimyati dan Mudjiono. 2004. Belajar Dan Pembalajaran. Jakarta: Rineka
Cipta.
Engkoswara dan Aan Komariah. (2015). Administrasi Pendidikan, Bandung:
Alfabeta.
Indrawan,
Irjus. (2015). Pengantar Manajemen Sarana Dan Prasarana Pendidikan, Yogyakarta:
Deepublish.
Kusnandar.
(2007). Guru Profesional. Jakarta: Raja Grafindo.
Manu Lukas, Blegur
Jusuf. (2017). Manajemen Sekolah. Kupang: Jusuf Aryani Learning.
Matin
dan Nurhattati Fuad, 2016. Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan: Konsep
dan Aplikasinya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Matin, Nurhattati Fuad. (2016). Manajemen
Sarana dan Prasarana Pendidikan : Konsep dan Aplikasinya. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Morrison,
D.M. dan Mokashi K. & Cotter, K. (2006). Instructional Quality Indicators.
Cambridge: Research Foundations.
Mujamil
Qomar. (2007). Manajemen Pendidikan Islam: Strategi Baru Pengelolaan Lembaga
Pendidikan Islam. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Mulyasa,
E. (2004). Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya. Jakarta:
Penerbit Erlangga.
Mulyadi.
2010. Evaluasi Pendidikan Pengembangan Model Evaluasi Pendidikan Agama Di
Sekolah, UIN-Maliki Press.
Nirmala,
Widia, Indah. (2015). Pengaruh Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan
Terhadap Kualitas Layanan Pembelajaran di SMPN Kecamatan Sukasari Kota Bandung.
Thesis. Unuversitas Pendidikan Indonesia.
Oemar
Hamalik. 2004. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Rahmawati,
Kiki, Anita. (2019). Pengaruh Manajemen Sarana dan Prasarana Terhadap
Peningkatan Kualitas Layanan Pembelajaran di Madrasah Aliyah Negeri 1 Mojokerto.
Skripsi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.
Sallis,
E. (2005). Total Quality Management in Education. London: Kogan Page Limited.
Siregar, Eveline dan Nara Hartini. (2011). Teori Belajar dan Pembelajaran.
Bogor: Ghalia Indonesia.
Siregar,
Silvia Namora Anggelie. (2019). Manajemen Sarana Prasarana Dalam Meningkatan
Kualitas Pembelajaran di MTS Al Hasanah Medan. Skripsi. Universitas Islam
Negeri Sumatera Utara. Medan.
Syaiful
Bahri Djamaroh Dan Arwan Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta:Rineka Cipta.

0 Komentar