KHOTBAH IDUL ADHA 1442 H - 2021 M DI GANTA DESA BONTO BIRAENG KEC. KAJANG

  

 

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ اَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allah. Akbar!

Alhamdulillah, inni alloa rie’maki massing ampantamai allo malabbiriya iyamintu Hari Raya Idhul Adha atau hari raya Kurban. Lanri’ Kamua’na minjo parallumi nisambut siurangan takabbere ammuji mange ri Kr. Allah Taala.  Ia Kareang Anre Juluna, Ia Assa Kuasa, Ka Kuasaanna sumpae massing kitte ngasekmi, ia  ampasilebasai saksanga  Siurang sinaraka, ampasilebbasai bulanga naki riekmo inni kunni ilalang ri allo mallabiria, allo lompota, alloa nikarannuang ummat Islam sibatu linno,allo paklappassang Hajjia. hakikatna kalompoanna inni alloa iyamintu persatuan / passreanna Umat Islam – naia puncakna paksekreanna umat Sallang nga iyamintu di padang Arafah. Singkamua nu nigaukangnga inni alloa

Passekreanna umat islam battu ri ia ngasekna sibatu lino, anrekmo nipasilolongangngi ri anrekna julu bahasa, anre pappada adat istiadatnya, anre nasintanja bukkulenna. Mereka serentak bersatu menjawab panggilan Allah SWT

Meski inni selama ruang Tahun  Jamaah haji yang berasal dari Indonesia batal berangkat karena kebijakan pemerintah dalam mengatasi pandemic covid-19 ini. Harapan dan doa kita Kepada Allah SWT semoga di Tahun 2022 kedepan, Jamaah haji Indonesia sudah bisa berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah hajisecara khusyu tanpa ada ketakutan pandemic. . Amiin Ya Rabbal Alamin.

Selanjutna mae ki Kimassing Appabattu Sallang Pappakasalam Ri Nabitta Muhammad SAW (Allahumma Salli Ala Sayyidina Muhammad) Ia Nabbi Nautusu’ Karaeng Allahu Taala Mange ri tomokna Linoa Ajjari Papptuntungan, angngerang sinara siurang pappijojjo mange ri oloang Kasalamakkang Baji ri lino la’bipa riallo Anjorengan. Insya Allah. Semoga I Gitte Ngasekna inni mendapat Syafaatn Nabi Muhammad SAW kelak di hari kiamat.

Allahu Akabra 3 X  Walillahil Hamd. 

Hari   ray sejatiny adala hari   yang   dirayaka setela seorang   hamba melakukan berbagai ketaatan dan penghambaan kepada Allah ta’ala. Idul Fitri sejatinyadalah  bagi  merekyang  telah  sungguh-sungguh  melaksanakan ibadah puasa dan berbagai ibadah di bulan Ramadlan. Dan Idul Adha sejatinya adalah bagi mereka yang telah menjalankan rukun haji yang paling utama, yaitu wukuf di Arafah, atau bagi mereka yang telah sungguh-sungguh melakukan ketaatan dan ibadah pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah.

Merekalah yang sejatinya berhari raya. Sedangkan orang-orang yang tidak mendahului dua hari raya dengan berbagai ketaatan dan ibadah, lalu apa yang mereka rayakan?

Hadirin Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah

Hari raya sejatinya bukanlah hari kegembiraan bagi hanya sebagian orang. Pada hari raya, semestinya yang berbahagia bukanlah orang-orang tertentu. Seharusnya kita semua bergembira. Seharusnya kita semua berbahagia. Karena hari raya sejatinya adalah hari raya seluruh umat. Hari raya adalah kegembiraan umat Islam di seluruh dunia. Hari raya adalah kegembiraan bersama

Zakat fitrah yang mengiringi idul fitri dan kurban yang mengiringi idul adha adalah bukti bahwa Islam menggariskan agar hari raya melahirkan kegembiraan bersama. Orang yang mampu berzakat fitrah, maka ia berikan zakatnya kepada orang-orang  yang fakidamiskin.  Orang yang mampu  berkurban,  maka ia bagikan daging hewan kurban kepada orang-orang yang tidak mampu, yang sebagian  dari  mereka   mungkin  hanya  merasakan  daging   setahun  sekali. Dengan itu, kegembiraan akan merata. Kegembiraan akan dirasakan oleh sebanyak-banyaknya umat Islam.

Dari titik ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa memenuhi kebutuhan orang-orang yang membutuhkan dan menggembirakan mereka dengan zakat dan daging kurban adalah sesuatu yang semestinya selalu mengiringi setiap momen hari raya. Hakikat hari raya adalah kegembiraan bersama, kasih sayang, empati dan berbagi kepada sesama.

Hadirin Kaum Muslimin Rahimakumullah

Sebagai upaya untuk menjadikan hari raya sebagai kegembiraan bersama, kita seyogyanya menyambut hari raya dengan mempersiapkan diri kita untuk berbagi dengan yang lain. Menjelang hari raya, kita persiapkan diri kita untuk membantu sesama, meringankan beban saudara-saudara kita yang membutuhkan  damenghilangkan  kesedihan  mereka  dengan menyumbangkan sebagian harta kita. Jika tidak mampu, maka dengan ucapan- ucapan yang indah yang dapat menghibur hati mereka, dengan sapaan dan senyuman tulus kepada mereka serta lantunan doa untuk kebaikan mereka.

Hari ini kita bisa berkumpul bersama ayah-ibu kita, bersama anak-anak kita, teman- teman kita dan orang-orang yang kita cintai dalam rangka makan bersama pada momen hari raya, pernahkah kita merenungkan sejenak diluar sana, diantaranya masih banyak anak-anak yatim yang tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tua mereka. Di diluar sana ada banyak janda- janda  yang  bekerja  membanting  tulang  mencari  nafkah  untumenghidupi anak-anak mereka, rela berpanas matahari relah kehujanan mengangkat batu merah dan campuran semen atau pekerjaan lainnya yang halal untuk anak-anak mereka. Ingatlah bahwa di wilayah lain banyak orang yang harus kehilangan  pekerjaan  pada  musim  pandemi  ini.  Di  berbagai  daerah  banyak orang kesulitan mencari nafkah akibat covid-19 yang terus mewabah

Paling tidak, kita lantunkan doa untuk mereka pada hari yang penuh keberkahan ini. Pada hari yang semestinya semua orang bergembira, mereka menahan kesedihan, merasakan perihnya kehidupan da menanggung beban hidup yang serba kesulitan. Kita sisipkan doa untuk mereka ditengah  kegembiraan kita.

Selain bantuan materi maupun doa, demi meyudahi pandemic covid-19 ini dimuka bumi, setidaknya mari berusaha untuk mematuhi dan menjalankan anjuran agama Yaitu Taatilah pemerintah (Ulil Amri Minkum). Ketika pemerintah berjibaku melawan penyebaran pandemic ini dengan segala potensi yang dikerahkan, paling tidak sebagai warga Negara mari kita berusaha mematuhi protocol kesehatan yang ditetapkan pemerintah sambil ikut program vaksinasi sebagai bentuk ikhtiar menyudahi virus covid-19 ini. Itulah bentuk sumbangsih kita kepada sesame karena jika hal ini diwujudkan kesulitan yang dihadapi pada masa pandemic ini segera berkahir dan saudara muslim kita oun sudah bisa melakukan aktivitas ekonomi mereka.

Allahu Akbar 3 X Walillahil Hamd.

Kita hadirkan dalam hati bahwa pada saat kita membantu orang-orang yang membutuhkan atau mendoakan mereka, pada hakikatnya kita sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Sesuai firman Allah Taala dalam Alquran yang berbunyi :

 


Artinya : Jika Kalian berbuat baik, sejatinya kalian telah berbuat baik bagi diri kalian sendiri (Q.S.Al-Isra,7)

Selanjutnya Allah SWT berfirman dalam Surah AL-Baqarah Ayat 272 yang berbunyi :

 

Artinya : Dan apapun harta yang kalian infakkan di jalan Allah, maka pahalanya untuk diri kalian sendiri, dan janganlah kalian berinfak melainkan karena mencari ridha Allah SWT. Dan apapun yang kalian infakkan, niscaya kalian akan diberi pahala secara penuh dan kalian sedikitpun tidak akan dirugikan.

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah

Kesulitan yang dialami selama pandemic ini pada dasarnya tidaklah sebanding dengan apa yang menimpa Nabiullah Ibrahim AS dan Ismail AS berserta keluarganya.

Betapa tidak, penantian selam kurang lebh 86 tahun Usia nabi Ibrahim AS barulah dikarunia anak yang kemudian dikenal dengan Nani Ismail SAW.setelah belahan jiwa ini tumbuh besar dating perintah Allah SWT untuk menyembeli putra yang sangat dicintai daan di nanti-nantikan.

Tentu sebagai seorang yang beriman dan taqwa kepada ALLAH SWT maka perintahuntuk ditindak lanjuti tanpa ada keraguan sedikitpun. Sang putra pun menyambut dengan kepasrahan total kepada Allah SWT. Sebuah potret keluarga shalilh yang lebih mengutamakan perintah Allah dibanding dengan apapun selainnya. Berbeda jauh dengan kita. seruan adzan saja yang didengarkan di masjid untuk bersegerah meninggalkan urusan dunia lalu menjalankan shalat Fardhu  pun biasa kita abai. Subhanallah.

Allahu Akbar 3 X Walillahil hamd.

Dialog indah antara dua manusia salih terekam dalam al Quran Surah As-Syaffat, ketika nabi Ibrahim datang menemui anak semata wayangnya.

Qala Ya Bunayya Inni Ara fil-manami Anni Azbahuka Fanzur Ma Za Tara.

Artinya : Ibrahim berkata, Duhai Putraku, sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu ?.

قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ ﴿١٠٢﴾

Qala Ya Abatif-al Ma Tu’maru Satajiduni In Sya Allahu Minas-Sabirin ( wahai Ayahku, lakukan apa yang diperintahkan (Allah) kepada mu, niscaya engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.

Jawaban Ismail yang disertai “In sya Allah” menunjukkan keyakinan sepenuh hati dalam dirinya bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah. Apa pun yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan apa pun yang tidak dikehendaki Allah pasti tidak akan terjadi

Hadirin Rahimakumullah

Selang beberapa saat kemudian, nabi Ibrahim mulai menggerakkan pisau diatas leher Ismail AS. Akan tetapi ketika pisau itu digerakkandi leher Ismail, maka seketika pisau yang tajam terbalik ke bagian atas. Lalu Ibrahim mencoba memotongkan pisau tersebut kesebuah batu. Ternyata batu keras tersebut terbelah. Hai pisau, engkau sanggup membelah batu, tapi kenapa tidak sanggup memotong leher ? Kata Ibrahim. Dengan izin Allah, pisau itu menjawab “Anda katakana potonglah, tapi Allah mengatakan jangan potong. Mana mungkin aku memenuhi perintahmu wahai Ibrahim, jika akibatnya akan durhaka kepada Allah SWT. Dalam pada itu Allah SWT memerintahkan Jibril Untuk mengambil seekor kibas dari surga sebagai ganti dari Ismail. Dan Allah SWT berseru dengan firmannya, menyuruh menghentikan perbuatan Ibrahim, tidak usah diteruskan pengorbanan terhadap anaknya. Allah telah ridho Ayah dan anak memasrahkan tawakkal mereka. sebagai imbalan keikhlasan mereka, Allah mencukupkan dengan penyembelihan seekor kibas. Sebagaimana diterangkan dalam Alquran Surah Asy-Syaffat ayat 107-110.

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ

Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian.

سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ

Yaitu kesejahteraan semoga dilimpahkan kepada Nabi Ibrahim.”

كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Jamaah Shalat Idul Adha Yang berbahagia

Mari kita renungkan peristiwa bersejarah dalam kehidupan keberagamaan kita sebagai umat Islam. Ditengah pandemic yang belum kunjung berakhir ini dan berbagai permasalahan bangsa akhir-akhir ini, marilah kita meneladani apa yang telah diteladankan oleh Nabi Ibrahim AS dan nabi Ismail AS ketika diuji Allah SWT dengan ujian yang berat tersebut.

Berkat ketakwaan,  sikap sabar,  tawakal,  keteguhan hati dalam menjalankan perintah Allah dan ketundukan yang total kepada-Nya, Nabi Ibrahim dan Ismail pada akhirnya mendapatkan jalan keluar dan pertolongan dari Allah subhanahu wa taala

Kita harus yakin bahwa di setiap kesulitan pasti ada kemudahan, jika kita bersabar. Kita harus yakin bahwa di setiap musibah pasti ada hikmah, jika kita bertawakal. Kita harus yakin bahwa di setiap masalah, pasti akan kita temukan jalan keluar, jika kita bertakwa. Dan kita yakin bahwa di setiap kesusahan pasti ada kebahagiaan, jika kita tunduk total kepada Allah subhanahu wa taala.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

 

Akhirnya kita berdoa, semoga Allah menghindarkan negara kita secara khusus dan seluruh negeri umat Islam secara umum dari segala bala, musibah, wabah, melambungnya harga, kemungkaran, keburukan, kekejian, berbagai kesulitan dan kesusahan. Amin Ya Rabbal alamin

Aqulu Qauli Hasa Wastagfirullaha Li Walakum Fastagfiruhu Innahu Huwal Gafurur Rahim 

Posting Komentar

0 Komentar