Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1442 Hijriyah /
2021 M
KEKUATAN
ISTIGFAR
Andi Muhammad Tasmira, S.Pd MM / di Bonto
Nangka Desa Malleleng.
Sadaqallahul Adzim.
Jamaah Shalat Idul fitri
berbahagia
Allahu Akbar 3 X Walillahil hamd.
Pertama-tama,
marilah kita memulai pagi yang cerah ini dengan mengungkapkan syukur kita
kepada Allah SWT. Setiap hari anugerah dan nikmat-Nya turun kepada kita,
meskipun setiap hari kita mungkin tak pernah absen melakukan dosa dan kesalahan
kepada-Nya. Setiap saat limpahan rezeki-Nya dikucurkan pada kita sehingga
tercukupi kebutuhan sehari-hari kita, meskipun pada saat yang sama kita terasa
berat untuk beramal dan berinfaq di jalan-Nya. Setiap waktu, belaian kasih
sayang-Nya, rahman dan rahim-Nya senantiasa kita rasakan, meskipun kita sering
melalaikan perintah-perintah-Nya. Olehnya itu, melalui momen lebaran kali ini,
mari sekali lagi kita haturkan puja puji kita kehadirat Allah SWT. Dan
selanjutnya Salam dan Sholawat kepada Junjungan Nabi Muhammad SAW, Beliau telah
membimbing kita menuju risalah Allah, Dienul Islam. Beliau tidak hanya
menyampaikan ajaran, akan tetapi juga memberikan ketauladanan paripurna kepada
kita. Apapun profesi kita, maka hendaknya
Rasulullah SAW adalah tauladannya. Laqad kaana
lakum fii rasulillahi uswatun khasanah (Sungguh dalam diri Rasulullah SAW
terdapat keteladanan yang baik).
Marilah kita
senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya
taqwa yakni menjalankan perintah-perintahnya dan menjauhi segala larangannya.
Kaum Muslimin dan Muslimat
Rahimakumullah.
Jamaah Id Yang berbahagia
Selama satu bulan ini, kita ditempa dan di
didik dalam bulan madrasah, bulan Baroqah, bulan kemulian yang didalamnya
segala amal kebajikan yang kita perbuat akan dilipatgandakan pahalanya oleh
ALLAH SWT dan segala dosa-dosa yang telah lalu dihapus oleh Allah SWT. Seperti
Hadits Nabi Muhammad SAW yang menyatakan Man
shoma romadhona imanan wahtisaban ghufiro lahu maa taqoddama min dzanbih. "(Artinya) barang siapa yang berpuasa
sebulan penuh di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala
dari Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu (HR Bukhari Muslim),
Kemudian
pada hadits lain dikatakan bahwa Barangsiapa memberi BUKA PUASA (makanan
atau minuman) kepada orang yang berpuasa, maka dia akan mendapat pahala seperti
pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang
berpuasa tersebut," (HR Ahmad).
Ramadhon tahun ini adalah
ramadhon tahun kedua di musim pandemic covid-19, dimana kita pahami bersama
bahwa kondisi dunia saat ini tengah diliputi suasana kecemasan dan ketakutan
karena adanya virus yang mematikan ini. Segala sendi kehidupan mendapat dampak
yang cukup luar biasa dari pandemi ini. Pun demikian dalam suasana keberagamaan
kita sebagai Umat Islam, merasakan dampak dari pandemic. Dimana kita melihat,
puasa ramadhan kita selama 2 tahun ini terasa berbeda dengan ramadhan
sebelumnya. Jika sebelumnya, Masjid penuh dengan jamaah maka selama dua tahun
ini, kita tidak merasakan hal itu. Jika sebelumnya, ada tradisi mudik bagi
sanak keluarga yang tinggal di luar daerah, maka selama covid-19 ini Pemerintah
mengeluarkan kebijakan pelarangan mudik. Lalu ada diantara kita yang menentang
kebijakan ini dengan beralasan bahwa silaturahmi itu penting dan dianjurkan
agama dan bahkan sudah menjadi tradisi di kalangan Umat Islam. Hal itu benar adanya. Akan tetapi ketika dalam
situasi pandemic covid-19 ini, dimana ada yang lebih utama dari itu yakni
kesehatan dan keselamatan kita semua. Bukanka didalam ajaran agama berlaku
kaidah“Aham Fal Aham” yakni
mendahulukan yang lebih penting dari yang penting, dan mendahulukan yang
penting dari yang kurang penting.
Jamaah Shalat Id Yang sama berharap Ridho Allah
SWT.
Dalam kehidupan kita sebagai seorang muslim,
kita senantiasa berharap keridhaan Allah SWT. Ridho Allah SWT akan kita
dapatkan jika kita mengamalkan ajaran agama dengan sebaik-baiknya. Terlebih
lagi selama bulan ramadhan ini kita berupaya untuk mendapatkan ridho Allah
dengan jalan berpuasa atau menahan bukan terbatas menahan lapar dan dahaga saja
akan tetapi lebih dari itu, kita puasakan diri dari segala perbuatan yang
dilarang oleh Allah SWT dan RasulNya. Harapannya apa yang telah kita lakoni
selama satu bulan ramadhan ini pun akan kita bawa di kehidupan diluar ramadhan.
Namun, tidak jarang ada diantara Umat Muslim
yang ibadahnya giat di bulan ramadhan, akan tetapi setelah berakhirnya ramadhan maka
ibadahnya pun terhenti, malah melakukan perbuatan-perbutan dosa. Inilah
sesungguhnya hal yang tidak dibenarkan dalam ajaran Islam. Semoga kita semua
tidak termasuk golongan tersebut. Ridho Allah SWT akan terhenti jika kita
melakukan perbuatan dosa.
Jamaah Shalat Idil Fitri
1442 H Yang berbahagia.
Disinilah pentingnya Istigfar atau mencari
pengampunan. Istigfar adalah hadiah bagi kaum Muslim, ini adalah metode
bagaimana kita kembali kepada Allah SWT setiap kali kita keluar dari batasan
yang telah ditetapkan Allah SWT dalam Alquran dan Sunnah Nabi.
Terkait dengan dosa sebagai salah satu penyebab
terhentinya ridho Allah SWT, oleh sebagian besar Ulama menyatakan bahwa dosa
itu ada 2 jenis yakni dosa besar dan dosa kecil. Dosa besar mengandung bahaya
dan mudharat yang lebih besar, dan dosa kecil mengandung bahaya dan mudharat
yang lebih kecil.
Namun, oleh Sebagian ulama menyatakan Bagaimana
pun besarnya dosa yang diperbuat, jika senantiasa digempur dengan Istigfar maka
Allah SWT akan membukakan pintu taubatnya. Begitupun sebaliknya, bagaimana pun
kecilnya dosa yang diperbuat, akan tetapi dosa kecil itu senantiasa dilakukan
maka dosa tersebut akan menjadi dosa besar.
Kaum Muslimin dan Muslimat Rahimakumullah
Dikisahkan dalam Kitab Al-Qhurthubi, Suatu
ketika ada tiga pemuda yang datang mengadu kepada Syeh Al-Hasan Al Basri (Ulama
Besar). Pemuda pertama mengadu, bahwa dikampungnya terjadi paceklik, musim
kering berkepanjangan sehingga semua tumbuhan dan hewan mati, tidak ada bahan
makanan sehingga masyarakat kelaparan. Maka Beliau menjawab, Katakan kepada
masyarakat disana – beristigfarlah – memohon ampun kepada Allah SWT dari segala
perbuatan dosa yang diperbuat selama ini.
Selanjutnya, pemuda kedua pun mengadu terkait
dengan nasibnya. Wahai Syeh AL-Hasan, Saya ini sudah puluhan tahun mengadu
nasib – mencari nafkah – berusaha dengan segala macam usaha yang saya geluti.
Namun sampai saat ini, tidak juga menjadikan saya sebagai seorang yang kaya
raya. Ada apa sebenarnya ?. Lalu, Hasan AL Basri menjawab, perbanyaklah
istigfar, semoga Allah SWT membukakan pintu rezeki Nya untukmu.
Pemuda ketiga pun berucap. Saya ini sudah lama
menikah. Namun sampai saat ini, belum juga saya dikarunia anak. Doakanlah saya
wahai Syeh Hasan Al Basri agar dikarunia Anak. Syeh Hasan pun menjawab,
Pulanglah ke rumah mu, beritahu istrimu, perbanyaklah Istigfar memohon Ampun
kepada Allah SWT, mungkin saja ada perbuatan dosa yang kamu berdua pernah
perbuat diwaktu dahulu.
Jamaah Id yang berbahagi
Hadirin Jamaah Shala Id Yang berbahagia
Sungguh menarik jawaban dari Syeh Hasan Al-
Basri tersebut. Beliau memfokuskan pada satu kata kunci yakni Istigfar. Ini
menandakan bahwa dengan banyak Istigfar dan bertaubat bisa memberikan dan
menurunkan keridhoan Allah SWT.
Ulama Besar Indonesia
“Buya Hamka” memberi komentar tentang ayat ini, bahwa ampunan Tuhan adalah
cahaya hidup, jika Tuhan memberi ampunan, segala pekerjaan menjadi mudah, dada
pun lapang dan hidup akan terang benderang.
Hadirin
yang berbahagia !
Istighfar selain
meminta ampun juga sebagai permohonan agar kita tidak ditimpa malapetaka
keburukan hidup , dan hal-hal yang membawa kita menderita akibat perbuatan dosa
yang kita lakukan.. Istighfar merupakan kesadaran mengakui kesalahan,
kekurangan dan merasa belum baik. Karena itu tidak heranlah , jika Nabi
Muhammada Saw. Mengajarkan kepada kita agar membaca istighfar tiga kali. Bahkan
beliau beristighfar sehari-semalam tidak kurang dari seratus kali.
Istighfar memang
memiliki pengaruh positif bagi kita dan orang lain serta akan membawa
kebahagiaan hakiki bagi pelakunya, semoga dalam kehidupan sehari-hari kita
mampu mematri istighfar dalam diri , sehingga kita akan terus membenahi diri
untuk menjadi hamba Allah Subhaanahu wa Ta’ala yang selalu dapatkan ridlo-Nya..
Istighfar tidak hanya dilakukan setelah shalat, pada akhir tahun atau mengawali
tahun baru. Namun, seharusnya istighfar dilakukan setiap saat , agar kesadaran
mengakui kesalahan akan terpatri dalam diri.
Maka sudah
selayaknyalah bagi kita untuk menjadikan istighfar sebagai bagian penting dalam
hidup kita sehari-hari. Istighfar menjadi suatu keniscayaan untuk dilakukan,
sebab manusia sering lupa dan khilaf, sehingga dalam kehidupannya masih sering
melakukan hal-hal yang semestinya dijauhi. Rasulullah SAW sendiri telah
mencontohkan memberi tauladan kepada umatnya dengan beristighfar minimal
sebanyak 70 kali dalam sehari semalam.
Akhirnya, saya mengajak kepada para jamaah
marilah kita senantiasa beristigfar memohon ampun kepada Allah SWT, terlebih dalam
kondisi seperti saat ini. Semoga istighfar kita mengetuk pintu langit dan
dengannya Allah karuniakan banyak kebaikan untuk kita. Segera mengangkat wabah Covid-19 ini dari muka
bumi sehingga kita semua kembali dalam ranah kehidupan normal seperti biasanya.
Aaamiiin yaa rabbal alamiin.


0 Komentar