Khotbah Idul Fitri


 

Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriyah / 2020 Masehi

IDUL FITRI DIMASA PANDEMI COVID-19

Andi Muhammad Tasmira, S.Pd / di Kaneka Desa Tambangan Kajang

 

Allahu akbar 9x,

Allahu Akbar kabiiro, walhamdulillahi katsiro, wasubhanallahi bukratawwa ashila.

Laa-ilaha illallahu wahdah, shodaqa wa‘dah, wanasharo ‗abdah, wa a‘azza jundah, wahazaamal ah zaaba wahdah. Lailaha illallahu wallahu akbar allahu akbar walillahil hamd.

Alhamdulillah, Alhamdulillahillazi hadana lihaza wama kunna linahtadiya laula an hadanallah.

Asyhadu anlailaha illallah wahdahu lasyarikalahu, Wa asyhadu annna muhammadan abduhu warasuluhu. Allahumma fasolli wasallim ala hasan nabiyyil karim, warrosulil azim, sayyidina wamaulana muhammadin wa ala alihi wa ‗ashabi ajmain. Amma ba‘du.

Fa yaa ‗ibaadallah uwshikum wa iyyaya bitaqwallah faqadfasal muttakun.

Faqod qolallahu ta'ala fikitabihil karim : 'Audzu billahhiminassayyithon

                                     

Amma Ba’dhu

Jamaah Shalat Idul fitri berbahagia

Allahu Akbar 3 X Walillahil hamd.

Alhamdulillah, inni alloa riek maki massing ampantamai allo malabbiriya, iyamintu hari raya idul fitri 1 syawal 1441 H. Lanri Kamuakna minjo naparallumo nisambut siurangan takabbere dan tahmid ammuji mange ri karaeng allah subhanawataal.

Mae maki naki massing ansukkuri kabattuanna allo malabbiriya, nasaba hakikatna kalompoanna inni alloa iyamintu keberhasilanta maing a’bundu lalang ribulan rumallah. Peperangan yang kita telah laksanakan ini lebih besar bila dibandingkan dengan perang mengangkat senjata melawan musuh, lebih berat dari perjuangan yang mengorbankan sebagian kecil dari milik kita. Itulah perjuangan memerangi hawa nafsu, menghadapi musuh yang tidak nampak di mata dzahir tetapi justru rieki ri batag kalenta.

Puasa ramadhan di tahun 1441 hijriyah kali ini terasa sangat berbeda dengan hari-hari ramadhan di tahun-tahun yang lalu. Betapa tidak, kita melewati rangkaian ibadah ramadhan dalam suasana penuh kekwatiran dimana adanya pandemic virus covid-19 ini. Namun dari keterbatasan itu, kita tetap istiqomah melaksanakan amaliah-amaliah ramadhan itu dengan berbagai keterbatasan.

Hari ini, suasana suka cita akan hari lebaran pun juga terasa berbeda karena pandemic yang mengancam setiap saat. Tetapi kita perlu untuk menyiasati semua itu dengan penuh percaya diri dan keyakinan akan lindungan Allah SWT atas hamba-hamba-Nya yang berusaha maksimal.

Allahu Akbar 3 X Walillahil hamdl.

Hari ini bilangan bulan syawal mulai menapaki harinya menjumpai kita dalam suasana fitrah, setelah ijtimah akhir ramadhan kemarin berlalu meninggalkan kita dengan sejumlah kenangan. Walaupun kenangan ramadhan di tahun ini sangat jauh berbeda dengan kenangan ramadhan di tahun sebelumnya. Kalau ramadhan tahun lalu, masjid-mesjid ramai dengan tarawih dan tadarrus-namun di ramadhan kali ini-suasana yang sangat kontras terjadi. dimana dihampir seluruh bagian dunia- Mesjid-mesjid untuk sementara ditutup dari kegiatan peribadatan. ini semua karena adanya pandemic covid-19 ini.

Jamaah Shalat Idul Fitri Rahimakumullah

Segala kenangan yang telah kita lewati bersama bulan ramadhan ini haruslah kita jadikan sebagai bahan untuk mengoreksi diri kita terhadap semua perlakuan ibadah yang kita lakukan selama ini.

Allah Tidak menghendaki keserakahan kita diwaktu berbuka, Allah tidak menilai amalan kita yang sia-sia, Allah tidak rela bila bulan ramadhan-Nya dikotori oleh perbuatan maksiat. Sungguh Allah tidak menerima rekayasa akal pikiran kita tentang kebutuhan akan dunia, Allah tidak meridhai budaya yang merusak amalan ibadah kepada-Nya. Sungguh Allah Tidak akan mendatangkan manfaat puasa bagi orang yang lalai melaksanakannya.

Sesungguhnya Allah Swt menilai puasa kita hanya dengan iman, yaitu tappatta mange ri Kr. Allah SWT, siurangan ni gaukangi sikuntu parentana na ni liliang sikuntu pappisangkana. Oleh karena itulah Allah SWT memanggil ummat Islam untuk berpuasa dengan sapaan kasih sayang “Ya Ayyuhallasina amanu”. Wahai orang-orang yang beriman. Untuk melakukan ibadah puasa di bulan ramadhan , dengan satu tujuan untuk menjadi orang-orang bertaqwa, yaitu orang-orang yang mampu melakukan perbatan-perbuatan baik sesuai aturannya sekaligus mampu memerangi kemungkaran terhadap diri dan lingkungannya.

Allahu Akbar 3X walillahil hamd.

Ada 3 hikmah yang dapat kita ambil dalam menyikapi kondisi bulan ramadhan dengan suasana musibah covid-19 ini.

Pertama : Musibah adalah sebagai ujian untuk meningkatkan kualitas keimanan. Semakin tinggi keimanan maka semakin berat juga ujian yang diberikan Allah SWT kepada kita. Orang-orang beriman wajib bersikap bijak menarik hikmah dari setiap musibah yang dihadapinya. Kita harus optimis bahwa sesudah kesulitan maka akan ada kemudahan.

Jika kesulitan dan kemudahan ini bisa kita olah dengan baik, maka akan muncul kemeriahan batin yang dapat kita rasakan sepenuhnya. Sejatinya, kemeriahan, kesukacitaan, dan kekayaan tidaklah terletak dalam kekayaan material, tetapi sebenarnya berada pada suasana batin yang dapat kita rasakan sepenuhnya.

 

Kedua, bersikap positif menghadapi musibah. Mari kita terus tumbuhkan semangat, optimisme, dan energi positif. Segala yang terjadi adalah atas izin Allah SWT, dan itu pasti baik. Ada sesuatu yang positif telah diskenariokan Allah setelah kondisi pandemic ini berakhir untuk kemajuan kita semua dan untuk kemajuan peradaban manusia.

“Ma ashaba min mushibatin fil ardhi wa la fi anfusikum illa fi Kitabin min qabli an nabra’aha. Inna dzalika ‘alallahi yasir”.

Tiada musibah yang menimpa di bumi dan pada diri kalian melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Allah SWT menciptakannya”.

 

Ketiga, kita dapat berusaha maksimal menjalani ujian ini dengan semangat jihad agar dapat sukses menapaki ujian ini sebagai lulusan yang berprestasi. Kita harus tetap istiqamah berpikir positif dan berbuat yang terbaik. Selalu

ada hikmah di balik musibah yang kita hadapi ini.

Jamaah Shalat Idul Fitri Rahimakumullah.

Dalam situasi merebaknya pandemi Covid-19 ini, kita selalu diminta untuk senantiasa menjaga diri agar terhindar dari penularan virus yang berbahaya tersebut. Ajakan menjaga diri ini adalah sejalan dengan perintah agama yang tertuang dalam al-Qur’an Surah al-Baqarah ayat 195:

 

“Wa la tulqu bi aydikum ilat tahlukah”.

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan”

 

Menjaga diri dari kebinasaan dapat diartikan sebagai kepatuhan kita dalam mengikuti dan menaati anjuran kebaikan dari berbagai pihak, terutama pemerintah dan pihak berkompeten lainnya agar kita semua terselamatkan dari wabah ini. Punna nakua pammarentata Jangan bepergian terutama pada wilayah yang zona merah- maka araki ampekkai apa nu nakuangan pammarentata. 

Rasulullah SAW juga mengajarkan kita bagaimana cara menghadapi wabah yaitu tidak memasuki ataupun keluar dari suatu wilayah yang ada penyakit menular tengah mewabah di dalamnya.

Maingi sekre hattu sayyidina Umar Bin Khattab melakukan perjalanan ke negeri syam. Di tengah perjalanan Sayyidina Umar memutuskan untuk anrek na lanjutkan perjalanannnya, melainkan memutuskan untuk kembali ke Madinah. Keputusan ini diambil karena mendengarkan kabar bahwa di negeri Syam telah terjadi wabah Ta’un.  Kemudian salah satu dari rombongan itu bertanya AFI RA’RAN MIN KADARILLAH (APAKAH KITA HENDAK LARI MENGHINDARI TAKDIR ALLAH ?. .

LALU DIJAWAB OLEH UMAR “NA’AM, NAFIRRU MIN QADARILLAH ILA QADARILLAH. (BENAR KITA MENGHINDARI SUATU TAKDIR ALLAH MENUJU TAKDIR ALLAH YANG LAIN).

Berbagai upaya yang dapat kita lakukan untuk mewujudkan nilai-nilai agama dalam merespons pandemi. Kita diminta untuk menjaga diri dengan cara menghindari wabah, menjaga pola hidup bersih, menjaga jarak fisik dengan orang lain (terutama yang tengah mengidap penyakit), dan terlebih menjaga stabilitas psikologis kita. Kita diminta untuk tidak panic melainkan senantiasa optimis. Ibnu Sina menyatakan bahwa kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah awal kesembuhan.

 

Allahu Akbar 3 X Walillahil Hamdl.

 

Ajaran agama Islam menekankan agar menghadapi wabah yang telah banyak menelan korban jiwa ini dengan tetap istiqamah menjaga pola hidup bersih dan sehat. Islam adalah agama yang identik dengan kebersihan, bahkan disebut bahwa kebersihan sebagai separuh dari keimanan. Rajin mencuci tangan telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW bahwa ketika bangun tidur, tangan dicuci tiga kali sebelum mulai berwudhu. Rasulullah SAW mengajarkan untuk selalu menyempurnakan wudhu. Bahkan, ulama kita mengajarkan agar kita selalu dalam kondisi ada wudhu, meski tidak hendak shalat atau mengaji. Paling tidak, berwudhu adalah satu ritual dan kebiasaan yang berfungsi preventif terhadap tertularnya penyakit. Upaya menjaga diri dari penyakit adalah ikhtiar kita yang dibarengi doa agar kita, keluarga, dan bangsa ini terselamatkan dari pandemi ini. Dengan berkah Ramadhan dan Idul Fitri ini,

kita berharap situasi semakin membaik. Semoga Negara Indonesia dan wilayah lainnya di dunia segera pulih dari pandemic covid-19 kali ini, semoga allah SWT segera mengangkat virus ini di permukaan bumi,Amiin Ya Rabbal Alamin

 


 


 

 

Posting Komentar

0 Komentar