KHOTBAH HARI RAYA IDUL ADHA 1441 HIJRIYAH / 2019 M
A.M.TASMIR,
S.Pd / TOMBOLO DESA TANAH TOWA
Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Di pagi hari
yang penuh barokah ini, kita berkumpul untuk melaksanakan shalat ‘Idul Adha.
Baru saja kita laksanakan ruku’ dan sujud sebagai manifestasi perasaan taqwa
kita kepada Allah SWT. Kita agungkan nama-Nya, kita gemakan takbir dan tahmid
sebagai pernyataan dan pengakuan atas keagungan Allah. Takbir yang kita ucapkan
bukanlah sekedar gerak bibir tanpa arti. Tetapi merupakan pengakuan dalam hati,
menyentuh dan menggetarkan relung-relung jiwa manusia yang beriman. Allah Maha
Besar. Allah Maha Agung. Tiada yang patut di sembah kecuali Allah.
Karena itu, melalui mimbar ini saya mengajak kepada diri saya sendiri dan juga
kepada hadirin sekalian: Marilah tundukkan kepala dan jiwa kita di hadapan
Allah Yang Maha Besar. Campakkan jauh-jauh sifat keangkuhan dan kecongkakan
yang dapat menjauhkan kita dari rahmat Allah SWT. Sebab apapun kebesaran yang
kita sandang, kita kecil di hadapan Allah. Betapapun perkasanya kita, masih
lemah dihadapan Allah Yang Maha Kuat. Betapapun hebatnya kekuasaan dan pengaruh
kita, kita tidak berdaya dalam genggaman Allah Yang Maha Kuasa atas
segala-galanya.
Shalawat dan salam semoga dilimpahkan Allah kepada junjungan
kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarganya, para
shahabatnya, para tabi’in dan tabi’ut tabi’in, serta siapa saja yang mengikuti
petunjuk beliau hingga yaumul qiyamah.
Kita ridha Islam sebagai agama dan Nabi Muhammad sebagai
Rasul-Nya. Maka marilah kita bertaqwa agar kita menjadi makhluk yang paling
mulia di sisi Allah, diampuni dosa-dosa kita, dan diberi-Nya jalan keluar
terhadap problem kehidupan yang kita hadapi.
Hadirin
Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Idul adha
dikenal dengan sebutan “Hari Raya Haji”, dimana kaum muslimin sedang menunaikan
haji yang utama, yaitu wukuf di Arafah. Mereka semua memakai pakaian serba
putih dan tidak berjahit, yang di sebut pakaian ihram, melambangkan persamaan
akidah dan pandangan hidup, mempunyai tatanan nilai yaitu nilai persamaan dalam
segala segi bidang kehidupan. Tidak dapat dibedakan antara mereka, semuanya
merasa sederajat. Sama-sama mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Perkasa,
sambil bersama-sama membaca kalimat talbiyah.
لَبَّيْكَ
اللّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ
Disamping Idul
Adha dinamakan hari raya haji, juga dinamakan “Idul Qurban”, karena merupakan
hari raya yang menekankan pada arti berkorban. Qurban itu sendiri artinya dekat,
sehingga Qurban ialah menyembelih hewan ternak untuk mendekatkan diri kepada
Allah SWT, diberikan kepada fuqoro’ wal masaakiin. Masalah
pengorbanan, dalam lembaran sejarah Islam, kita diingatkan pada beberapa peristiwa
yang menimpa Nabiyullah Ibrahim AS beserta keluarganya Ismail dan Siti Hajar.
Ketika Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah SWT untuk menempatkan istrinya
Hajar bersama Nabi Ismail putranya, yang saat itu masih menyusui. Mereka
ditempatkan disuatu lembah yang tandus, gersang, tidak tumbuh sebatang pohon
pun. Lembah itu demikian sunyi dan sepi sehingga tidak ada penghuni seorangpun. Nabi
Ibrahim sendiri tidak tahu, apa maksud sebenarnya dari wahyu Allah yang
menyuruh menempatkan istri dan putranya yang masih bayi itu, ditempatkan di
suatu tempat paling asing, di sebelah utara kurang lebih 1600 KM dari negaranya
sendiri palestina. Tapi baik Nabi Ibrahim, maupun istrinya Siti Hajar, menerima
perintah itu dengan ikhlas dan penuh tawakkal.
Seperti yang diceritakan oleh Ibnu Abbas bahwa tatkala Siti Hajar kehabisan air
minum hingga tidak bisa menyusui nabi Ismail, beliau mencari air kian kemari
sambil lari-lari kecil (Sa’i) antara bukit Sofa dan Marwah sebanyak 7 kali.
Tiba-tiba Allah mengutus malaikat jibril membuat mata air Zam Zam. Siti Hajar
dan Nabi Ismail pun memperoleh sumber kehidupan.
Lembah yang
dulunya gersang itu, mempunyai persediaan air yang melimpah-limpah. Datanglah
manusia dari berbagai pelosok terutama para pedagang ke tempat Siti Hajar dan
Nabi Ismail, untuk membeli air. Datang rejeki dari berbagai penjuru, dan
makmurlah tempat sekitarnya. Akhirnya lembah itu hingga saat ini terkenal
dengan kota Mekkah, sebuah kota yang aman dan makmur, berkat do’a Nabi Ibrahim
dan berkat kecakapan seorang ibu dalam mengelola kota dan masyarakat. Kota
mekkah yang aman dan makmur. dilukiskan oleh Allah dalam Al-Qur’an:
وَإِذْ
قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَـَذَا بَلَداً آمِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ
الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ
Artinya: Dan (ingatlah) ketika
Ibrahim berdo’a: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, sebagai negeri yang aman
sentosa dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman
diantara mereka kepada Allah dan hari kiamat.” (QS Al-Baqarah: 126)
Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Dari ayat
tersebut, kita memperoleh bukti yang jelas bahwa kota Makkah hingga saat ini
memiliki kemakmuran yang melimpah. Jamaah haji dari seluruh penjuru dunia,
memperoleh fasilitas yang cukup, selama melakukan ibadah haji maupun umrah. Hal itu
membuktikan tingkat kemakmuran modern, dalam tata pemerintahan dan ekonomi,
serta keamanan hukum, sebagai faktor utama kemakmuran rakyat yang mengagumkan.
Yang semua itu menjadi dalil, bahwa do’a Nabi Ibrahim dikabulkan Allah SWT.
Semua kemakmuran tidak hanya dinikmati oleh orang Islam saja. Orang-orang yang
tidak beragama Islam pun ikut menikmati. Sekali
lagi ini adalah berkat doa Pemimpin yang Soleh dan diaminkan oleh Istri yang Soleha.
Sebuah perpaduan keluarga Pemimpin yang di idam-idamkan oleh kita semua. Semoga
Bulukumba pada khususnya dan Indonesia pada Umumnya memperoleh Pemimpin yang
soleh dan soleha.
Allah SWT
berfirman:
قَالَ وَمَن
كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلاً ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ
الْمَصِيرُ
Artinya: Allah berfirman: “Dan kepada orang kafirpun, aku
beri kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka. Dan
itulah seburuk buruk tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah: 126)
Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Idul Adha yang
kita peringati saat ini, dinamai juga “Idul Nahr” artinya hari cara memotong
kurban binatang ternak. Sejarahnya adalah bermula dari ujian paling berat yang
menimpa Nabiyullah Ibrahim. Disebabkan kesabaran dan ketabahan Ibrahim dalam
menghadapi berbagai ujian dan cobaan, Allah memberinya sebuah anugerah, sebuah
kehormatan “Khalilullah” (kekasih Allah).
Setelah titel Al-khalil disandangnya, Malaikat bertanya kepada Allah: “Ya
Tuhanku, mengapa Engkau menjadikan Ibrahim sebagai kekasihmu. Padahal ia
disibukkan oleh urusan kekayaannya dan keluarganya?” Allah berfirman: “Jangan
menilai hambaku Ibrahim ini dengan ukuran lahiriyah, tengoklah isi hatinya dan
amal bhaktinya!” Kemudian Allah SWT mengizinkan para malaikat menguji keimanan serta
ketaqwaan Nabi Ibrahim. Ternyata, kekayaan dan keluarganya dan tidak membuatnya
lalai dalam taatnya kepada Allah.
Dalam kitab “Misykatul Anwar” disebutkan bahwa konon, Nabi Ibrahim memiliki
kekayaan 1000 ekor domba, 300 lembu, dan 100 ekor unta. Suatu jumlah yang
menurut orang di zamannya adalah tergolong milliuner. Ketika pada suatu hari,
Ibrahim ditanya oleh seseorang “milik siapa ternak sebanyak ini?” maka
dijawabnya: “Kepunyaan Allah, tapi kini masih milikku. Sewaktu-waktu bila Allah
menghendaki, aku serahkan semuanya. Jangankan cuma ternak, bila Allah meminta
anak kesayanganku, niscaya akan aku serahkan juga.” Ibnu Katsir dalam tafsir Al-Qur’anul ‘adzim mengemukakan bahwa,
pernyataan Nabi Ibrahim itulah yang kemudian dijadikan bahan ujian, yaitu Allah
menguji Iman dan Taqwa Nabi Ibrahim melalui mimpinya yang haq, agar ia
mengorbankan putranya yang kala itu masih berusia 7 tahun. Anak yang elok
rupawan, sehat lagi cekatan ini, supaya dikorbankan dan disembelih dengan menggunakan
tangannya sendiri. Sungguh sangat mengerikan! Peristiwa itu dinyatakan dalam
Al-Qur’an Surah As-Shoffat : 102 :
قَالَ يَا
بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى
قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ
الصَّابِرِينَ
Artinya: Ibrahim berkata : “Hai anakkku sesungguhnya aku
melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu “maka fikirkanlah apa pendapatmu?
Ismail menjawab: Wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.
InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS As-shaffat:
102).
Ketika keduanya
siap untuk melaksanakan perintah Allah. Iblis datang menggoda sang ayah, sang
ibu dan sang anak silih berganti. Akan tetapi Nabi Ibrahim, Siti hajar dan Nabi
Ismail tidak tergoyah oleh bujuk rayuan iblis yang menggoda agar membatalkan
niatnya. Bahkan siti hajarpun mengatakan, : ”jika memang benar perintah Allah,
akupun siap untuk di sembelih sebagai gantinya ismail.” Mereka melempar iblis
dengan batu, mengusirnya pergi dan Iblispun lari tunggang langgang. Dan ini
kemudian menjadi salah satu rangkaian ibadah haji yakni melempar jumrah;
jumrotul ula, wustho, dan aqobah yang dilaksanakan di mina.
Hadirin Jama’ah Idul Adha yang
dimuliakan Allah
Setelah sampai
disuatu tempat, dalam keadaan tenang Ismail berkata kepada ayahnya : ”ayah, ku
harap kaki dan tanganku diikat, supaya aku tidak dapat bergerak leluasa,
sehingga menyusahkan ayah. Hadapkan mukaku ke tanah, supaya tidak melihatnya,
sebab kalau ayah melihat nanti akan merasa kasihan. Lepaskan bajuku, agar tidak
terkena darah yang nantinya menimbulkan kenangan yang menyedihkan. Asahlah
tajam-tajam pisau ayah, agar penyembelihan berjalan singkat, sebab sakaratul
maut dahsyat sekali. Berikan bajuku kepada ibu untuk kenang-kenangan serta
sampaikan salamku kepadanya supaya dia tetap sabar, saya dilindungi Allah SWT,
jangan cerita bagaimana ayah mengikat tanganku. Jangan izinkan anak-anak
sebayaku datang kerumah, agar kesedihan ibu tidak terulang kembali, dan apabila
ayah melihat anak-anak sebayaku, janganlah terlampau jauh untuk diperhatikan,
nanti ayah akan bersedih.” Nabi Ibrohim menjawab
”baiklah anakku, Allah swt akan menolongmu”. Setelah ismail, putra tercinta
ditelentangkan diatas sebuah batu, dan pisaupun diletakkan diatas lehernya,
Ibrohim pun menyembelih dengan menekan pisau itu kuat-kuat, namun tidak mempan,
bahkan tergores pun tidak. Pada saat itu, Allah swt membuka dinding yang menghalangi pandangan
malaikat di langit dan dibumi, mereka tunduk dan sujud kepada Allah SWT, takjub
menyaksikan keduanya. ”lihatlah hambaku itu, rela dan senang hati menyembelih
anaknya sendiri dengan pisau, karena semata-mata untuk memperoleh kerelaanku. Sementara itu, Ismail pun berkata : ”ayah.. bukalah ikatan kaki dan
tanganku, agar Allah SWT tidak melihatku dalam keadaan terpaksa, dan letakkan
pisau itu dileherku, supaya malaikat menyaksikan putra kholilullah Ibrohim taat
dan patuh kepada perintah-Nya.”
Ibrohim mengabulkannya. Lantas membuka ikatan dan menekan pisau itu ke lehernya
kuat-kuat, namun lehernya tidak apa-apa, bahkan bila ditekan, pisau itu
berbalik, yang tajam berada di bagian atas. Ibrohim mencoba memotongkan pisau
itu ke sebuah batu, ternyata batu yang keras itu terbelah. ”hai pisau, engkau
sanggup membelah batu, tapi kenapa tidak sanggup memotong leher” kata ibrahim.
Dengan izin Allah SWT, pisau itu menjawab, ”anda katakan potonglah, tapi Allah
mengatakan jangan potong, mana mungkin aku memenuhi perintahmu wahai ibrahim,
jika akibatnya akan durhaka kepada Allah SWT” Dalam pada itu Allah SWT
memerintahkan Jibril untuk mengambil seekor kibasy dari surga sebagai gantinya. Dan
Allah swt berseru dengan firmannya, menyuruh menghentikan perbuatannya, tidak
usah diteruskan pengorbanan terhadap anaknya. Allah telah meridloi ayah dan
anak memasrahkan tawakkal mereka. Sebagai imbalan keikhlasan mereka, Allah
mencukupkan dengan penyembelihan seekor kambing sebagai korban, sebagaimana
diterangkan dalam Al-Qur’an surat As-Shaffat ayat 107-110:
وَفَدَيْنَاهُ
بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
“Dan kami tebus anak itu dengan
seekor sembelihan yang besar.”
وَتَرَكْنَا
عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ
“Kami abadikan untuk Ibrahim
(pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian.”
سَلَامٌ
عَلَى إِبْرَاهِيمَ
“Yaitu kesejahteraan semoga
dilimpahkan kepada Nabi Ibrahim.”
كَذَلِكَ
نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
“Demikianlah kami memberi balasan
kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Menyaksikan
tragedi penyembelihan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah umat manusia
itu, Malaikat Jibril menyaksikan ketaatan keduanya, setelah kembali dari syurga
dengan membawa seekor kibasy, kagumlah ia seraya terlontar darinya suatu
ungkapan “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Nabi Ibrahim menyambutnya
“Laailaha illahu Allahu Akbar.” Yang kemudian di sambung oleh Nabi Ismail
“Allahu Akbar Walillahil Hamdu.’
Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah
Inilah sejarah
pertama kalinya korban di Hari Raya Qurban. Yang kita peringati pada pagi hari
ini. Allah Maha pengasih dan Penyayang. Korban yang diperintahkan tidak usah
anak kita, cukup binatang ternak, baik kambing, sapi, kerbau maupun lainnya.
Sebab Allah tahu, kita tidak akan mampu menjalaninya, jangankan memotong anak
kita, memotong sebagian harta kita untuk menyembelih hewan qurban, kita masih
terlalu banyak berfikir. memotong 2,5 % harta kita untuk zakat, kita masih
belum menunaikannya. Memotong sedikit waktu kita untuk sholat lima waktu, kita
masih keberatan. Menunda sebentar waktu makan kita untuk berpuasa, kita tak
mampu melaksanakannya, dan sebagainya. Begitu banyak dosa dan pelanggaran yang
kita kerjakan, yang membuat kita jauh dari Rahmat Allah SWT.
Hadirin Jama’ah Idul Adha yang
dimuliakan Allah
Hikmah yang
dapat diambil dari pelaksanaan shalat Idul Adha ini adalah, bahwa hakikat manusia
adalah sama. Yang membedakan hanyalah taqwanya. Dan bagi yang menunaikan ibadah
haji, pada waktu wukuf di Arafah memberi gambaran bahwa kelak manusia akan
dikumpulkan di padang mahsyar untuk dimintai pertanggung jawaban.
Di samping itu, kesan atau i’tibar yang dapat diambil dari peristiwa tersebut
adalah:
Pertama, Hendaknya kita sebagai
orang tua, mempunyai upaya yang kuat membentuk anak yang sholih dan soleha,
menciptakan pribadi anak yang agamis, anak yang berbakti kepada orang tua,
lebih-lebih berbakti terhadap Allah dan Rosul-Nya. Anak adalah asset bangsa
kedepan, jika kita mau melihat bangsa Indonesia semakin maju, maka sumber daya
manusianya haruslah Unggul di bidang Iptek dan tak kalah pentingnya mesti
unggul di Iman dan Taqwa.
Kedua, perintah dan
ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh Allah SWT, harus dilaksanakan.
Harus disambut dengan tekad sami’na wa ‘atha’na. Karena sesungguhnya,
ketentuan-ketentuan Allah SWT pastilah manfaatnya kembali kepada kita sendiri.
Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
I’tibar ketiga, adalah
kegigihan syaitan yang terus menerus mengganggu manusia, agar membangkang dari
ketentuan Allah SWT. Syaitan senantiasa terus berusaha menyeret manusia kepada
kehancuran dan kegelapan. Maka janganlah mengikuti bujuk rayu syaithon, karena
sesungguhnya syaithon adalah musuh yang nyata. Maka
Keempat, jenis
sembelihan berupa bahimah (binatang ternak), artinya dengan matinya hewan
ternak, kita buang kecongkakan dan kesombongan kita, hawa nafsu hewaniyah harus
dikendalikan, jangan dibiarkan tumbuh subur dalam hati kita.
Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Tepatlah
apabila perayaan Idul Adha digunakan menggugah hati kita untuk berkorban bagi
negeri kita tercinta, yang beberapa hari kedepan akan memasuki usia 74 tahun. Bagi
para pemimpin negeri ini, baik pemimpin di tingkat nasional sampai pemimpin
di tingkat Desa, Tirulah gaya
kepemimpinan Nabiullah Ibrahim yang dengan pengorbanannya maka terwujudlah kota
Makkah yang aman, tentran, makmur dan sejahtera sampai saat ini. Disamping itu,
patut kiranya para istri pemimpin bangsa ini untuk mencontoh model ke ibuaan
soerang sitti Hajar yang dengan tangan terampilnya mampu mendidik anaknya
menjadi anak yang taat kepada Allah SWT. Karena sekarang tidak jarang kita
temukan seorang pejabat publik yang disegani oleh masyarakat dan mendapat
predikat pemimpin amanah namun mencetak anak yang pembangkang dan jauh dari
nilai-nilai Islami.
Momentum lebaran
qurban yang bertepatan dengan peringatan HUT RI yang Ke 74 ini pula mari kita
mengintrospeksi diri seberapa jauh kita telah berkorban untuk kepentingan
bangsa, Negara dan agama kita ini. Ibadah qurban dan ibadah haji yang telah
dijalankan semestinya tercermin pula dalam keseharian kita di masyarakat dengan
meningkatnya sifat derma, infaq dan sadaqah kita kepada siapa saja yang
membutuhkan. Mari kita sama-sama untuk membumikan pesan moril Idul adha ini,
baik itu posisi kita sebagai pemimpin, ataupun masyarakat, sehingga Negara kita
Republik Indonesia yang telah memasuki usia 74 Tahun ini akan menjadi Negara
yang baldatun tayyibatun warabbun gafur. Amiin 3 x Ya Rabbal Alamin.
Akhirnya, marilah kita berdoa kehadiratAllah
SWT memohon dan berharap, semoga apa yang kita pintadikabulkan oleh-Nya:
Duhai
Allah yang Maha melihat, yang Maha mendengar…hari ini, untuk kesekian kalinya
kami menundukkan jiwa kami dan mengakui betapa seringnya kami durhaka kepada
kedua orang tua kami. Tidak jarang kami membantah dan berbicara tidak pantas
kepada mereka…Betapa seringnya kami mengabaikan keperluan mereka…Kami
seringkali lupa bahwa mereka-lah pintu kami memasuki Surga-Mu, ya Allah.
Duhai
Allah yang Maha luas ampunanNya, ampunilah semua kedurhakaan dan kelalaian kami
kepada mereka…liputilah kedua orang tua kami dengan ampunan dan rahmatMu…terangi
alam kubur mereka yang telah tiada dan berikan kekuatan beramal shaleh kepada
mereka yang masih hidup…Ya Allah, izinkan kami untuk berbakti sebaik mungkin
kepada mereka hingga kehidupan kami berakhir di dunia ini…
Ya Allah,
Tuhan yang Maha mendengar dan Maha melihat…karuniakanlah kepada kami
pemimpin-pemimpin yang tidak pernah takut kecuali kepadaMu. Berikan hidayah
kepada mereka untuk selalu beribadah dan menegakkan ketetapanMu…Karuniakanlah
kepada kami para pemimpin yang memimpin kami dengan cinta, yang tulus memimpin
untuk kebaikan kami di dunia dan akhirat…
Ya Allah, Zat Yang Maha Mengabulkan doa,
kabulkanlah doa kami, penuhilah permintaan kami. Kami adalah hamba-Mu yang
lemah, harapan kami hanya kepadaMu, Engkau Maha Mendengar, Engkaulah Penguasa
satu-satunya Yang Haq, Engkaulah sebaik-baik Pemberi yang diharap.
BARAKALLAHU
LI WALAKUM FIL QURANIL ADZIM
WANA
FA’ANI WAIYYAKUM BIMA FIHI MINAL AYATI WAZIKRIL HAKIM
WATAKABBALALLAHU
MINNA WAMINKUM TILAWATAHUL INNAHU HUWAL GAFURUR RAHIM


0 Komentar